'Aisyiyah

Gerakan Perempuan Muslim Berkemajuan

Profil
Muinah, Perempuan Pertama KLU yang Sekolah di Mataram
17 Agustus 2020 07:47 WIB | dibaca 64

 

Aisyiyah yang berdiri tahun 1937 di Lombok, menjadi pelopor pendidikan bagi perempuan di Lombok Utara. Tahun 1958, seorang remaja putri bernama Muinah, anak dari H. Muhsin yang menjadi ketua Muhammadiyah Lekok saat itu lulus sekolah dasar kemudian melanjutkan sekolah ke SMP Muhammadiyah Mataram. Lekok dikenal sebagai kampung Muhammadiyah di Kabupaten Lombok Utara (KLU) yang merupakan daerah pertama yang menerima Muhammadiyah di Lombok pada tahun 1930. Jarak antara Mataram dan Lekok sekitar 62 KM, yang dapat ditempuh dengan mobil sepanjang 2 jam perjalanan. Pada tahun 1958, satu-satunya moda transportasi menghubungkan kedua daerah tersebut hanyalah bis yang bernama Apolo yang beroperasi seminggu sekali dari Tanjung, ibukota Lombok Utara ke Mataram.

 Sebagai anak pertama dan perempuan, Muinah kecil dikader oleh ayahnya untuk meneruskan misi Muhammadiyah dan menjadi penerus Aisyiyah yang saat itu dipegang oleh neneknya, Inak Rahmah. Inak Rahmalah yang menerima Aisyiyah pertama kali dari istri ustadz Umar Faruqi, seorang mubaligh Muhammadiyah dari Yogyakarta yang menyebarkan Muhammadiyah pertama kali di Lombok Utara. Dengan di antar oleh ayahnya, Muinah remaja tinggal di rumah tokoh Muhammadiyah Mataram yang bernama Asmo. Adanya hubungan ideologis sesama pengurus Muhammadiyah yang membuat ayah Muinah berani menyekolahkan anaknya jauh dari kampung halaman dan menitipkannya di orang lain disaat perempuan remaja lain dilarang untuk bersekolah dan pergi jauh dari keluarga. 

Perjuangan perempuan untuk mendapatkan pendidikan pada tahun 1950-an tidaklah mudah. Apalagi jika sekolah diluar daerah, dimana secara geografis jauh, alat komunikasi masih terbatas, transportasi terbatas. Namun, dengan semangat yang luar biasa, orang tua mereka memberikan kesempatan kepada anak-anak perempuan untuk mendapatkan pendidikan tinggi diluar daerah. Perjuangan untuk meraih cita-cita dan mendapatkan pendidikan terbaik tentu tidak mudah. Hanya orang tua yang sadar akan pendidikan yang menyekolahkan anaknya ke tingkat yang lebih tinggi.

Muinah muda menyelesaikan sekolah menengah pertama di SMP Muhammadiyah Mataram yang pada saat kepala sekolahnya dipegang oleh Raden Mardikun, yang pernah menjadi Pengurus Ranting Muhammadiyah Labuan Haji tahun 1936. Ia tidak hanya belajar secara formal untuk mendapatkan ijazah, tetapi juga belajar berorganisasi. Di Mataramlah Muinah mengenal organisasi Aisyiyah yang kelak menjadi tempat ia berjuang untuk agama dan kemanusiaan. Untuk itu, setamat SMP tahun 1963, ia pulang ke kampung halaman dan mendirikan Aisyiyah di Lekok. Ia terpilih menjadi ketua Aisyiyah pertama di Lekok. Selengkapnya ia menceritakan “pada suatu hari ketika habis maghrib, kita kumpul-kumpul dan memutuskan untuk membuat organisasi. Dan yang hadir memilih saya untuk menjadi ketua…” . Organisasi Aisyiyah pada saat itu hanya dilengkapi dengan struktur yang sederhana, hanya ada ketua, sekretaris, dan bendahara. Mereka adalah Bu Muinah, Bu Hayyinah, dan Bu Muhanah. Bu Muinah mengatakan “yang penting ada bendahara dan ada yang nulis” artinya yang penting bagi organisasi Aisyiyah adalah sekretaris dan bendahara.

Networking yang telah dijalin sejak di Mataram, memudahkannya untuk berkomunikasi dan berkoordinasi langsung dengan pengurus Aisyiyah Mataram saat itu seperti bu Ishaka, bu Safirah, bu Nurmah Jufri, bu Fatimah, dan bu Fauziyah. Kebetulan, kegiatan Aisyiyah dan Muhammadiyah terpusat di SMP Muhammadiyah, dimana Muinah remaja bersekolah.

Aisyiyah dibawah kepemimpinan Bu Muinah berkembang dengan baik, tidak hanya untuk kegiatan social keagamaan tetapi juga dibidang pendidikan. Kegiatan Aisyiyah adalah pengajian dan bersih-bersih kampung. Pengajian tidak hanya dihadiri oleh ibu-ibu Aisyiyah tetapi juga bergabung dengan bapak-bapak Muhammadiyah. Tema pengajian berkisar tentang agama: ibadah, shalat, tajwid dan kemuhammadiyahan. Bu Muinah menginisiasi pengumpulan beras untuk membayar gaji guru TK Aisyiyah. Beras tersebut dikumpulkan oleh ibu-ibu Aisyiyah, dengan cara ketika akan memasak nasi dengan menyisihkan satu jumputan untuk disedekahkan. Para petugas kemudian mengambil beras tersebut perminggu dan dikumpulkan untuk diberikan kepada para guru. Bu Muinah berhasil meletakkan fondasi yang kuat dalam berAisyiyah di Lombok Utara. (Nikmah)

Shared Post: